Oleh: RETORIKA | September 4, 2008

Ingin Menjadi Seperti Iran ? Bullshit !

Ya sebagian orang banyak mengagumi Iran setelah sekian lama di embargo oleh negara adidaya AS dan Uni Eropa. Tidak saja para pengikut Islam Syiah, beberapa organisasi penentang Islam syiah seperti yang dilakukan corong cybernya : Eramuslim juga turut mengaguminya. Baik dari segi kemandirian ekonomi maupun kemandirian teknologi baik sipil dan militer.

Blessing in Disguise 

Namun pada dasarnya kemampuan Iran menjadi sebuah negara mandiri yang dikatakan “cukup” makmur bukan mutlak karena kehandalan dan reformasi yang dilakukan pasca kejatuhan shah iran. Tetapi jauh kebelakan mereka sendiri telah “diberkati” oleh berbagai event yang terjadi sebelumnya.

Oil Booming pasca perang Yom Kippur menjadi salah satu indikator. Disaat liga-arab melakukan boikot terhadap ekspor minyak, Iran yang saat itu menjadi salah satu sekutu dekat AS melakukan expor besar2an kepada AS/Barat. Devisa melonjak membuat iran menjadi seharusnya menjadi negara makmur layaknya Dubai dan UAE. Tetapi sayang revolusi Islam yang terjadi pada tahun 1979 membuat hubungan negara ini dengan barat menjadi buruk untuk kemudian beralih kepada Soviet-China.

Alih alih mengalami “Chaos” gerakan revolusi yang didukung rakyat ini justru mampu menyelamatkan asset dan peninggalan warisan hubungan diplomatik dengan AS. Ditengah ancaman embargo AS, Iran mampu memanfaatkan asset yang ada untuk meningkatkan kemampuan kemandirian ekonomi mereka.

Nilai Tawar Iran Cukup Tinggi

Meski diberi sangsi embargo, Iran merupakan sebuah negara yang memiliki cadangan minyak yang terbesar, dan tawaran melakukan ekspor dengan harga yang “menggiurkan” terhadap musuh barat seperti China dan Russia menjadikan IRan memiliki nilai tawar yang cukup tinggi.

Satu hal yang harus di akui bahwa devisa negara yang mereka gunakan kebanyakan adalah untuk industri dasar seperti Sandang, Pangan maupun apapun kebutuhan yang sekiranya bisa tidak perlu di impor maka akan dibuat sendiri. Karenanya meski tidak se megah negara teluk lainya, setidaknya tidak ada warga mereka yang kelaparan. Sehingga taraf kemakmuran normal mampu mereka capai walau di dalam kondisi diemargo AS-Uni Eropa.

Ketergantungan ekonomi dua super power terhadap IRan, membuat negara “musuh” mereka berpikir 2 kali untuk melakukan tekanan secara fisik, selain hanya memberikan ancaman melalui sanksi embargo. Tidak seperti negara yang makmur namun tidak mandiri, iran adalah negara mandiri sehingga merupakan hal yang sulit bagi negara manapun untuk melakukan infiltrasi kepada pemerintahan iran saat ini.

Intinya Sulit menjadi Seperti IRan

Bagi negara dunia ketiga, mendambakan kemakmuran dan kemandirian yang dimiliki Iran adalah hal yang sulit (yang pasti tidak ada yang menginginkan bermusuhan dengan AS-Uni Eropa, termasuk juga Iran) karena tidak hanya dibutuhkan strategi pembangunan yang tepat, namun  serangkaian “keberuntungan” yang dialami dan dimiliki Iran juga  berperan membuat negara ini menjadi Solid seperti batu krikil (kecil namun Keras)  


Responses

  1. saya setuju dengan pendapat bahwa strategi membangun yang tepat adalah benar.

    negara kita sudah lebih 50 thn merdeka tetapi masih banya masyarakat yang terbelakang dan tertinggal.

    SDA yanng kita miliki dan tidak akan pernah habis sangat potensial untuk membangun negeri, menghapuskan kemiskinan, dan keterbelakangan.
    banyak orang pandai tetapi hanya memikirkan kepentingan diri sendiri dengan menggunakan kepandaiannya mencari gaji yang besar, menipu, korupsi, gila jabatan, etc

    demikian komentar saya
    kunjungi blog saya
    alamatnya : teddywirawan.wordpress.com
    beri komentar ya

    terimakasih

  2. hehehe..saya suka analisanya..

    numpang tanya,
    bagaimana dengan faktor kepemimpinan?
    apakah itu berpengaruh juga??

  3. @bro selib (Sekuler libreral)
    Gw pikir untk kasus iran-lebanon-palestine.. itu karena alasan syiah dan islam jg bro.. Perlu di ingat bhwa mayoritas rakyat iran bermadzab syiah itsna asyariah yg sangat dipengaruhi oleh otoritas agama yaitu wilayatul faqih. Dan menurut gw tidak semua yg menggunakan alasan agama itu pasti emosional.. Memang pasti ada pertimbangan politik dan ekonomi, itu wajar kalo ga gt ga survive.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: