20080721_amrozi_still_smiling

kegembiraan Amrozi Saat divonis mati – sekarang malah menolak habis habisan

Eksekusi Mati Pantas Bagi Amrozi Cs

Membunuh lebih dari 200 orang, merusak perekonomian Bali, melakukan penodaan terhadap agama hingga melakukan tindakan yang mengancam integrasi bangsa rasanya hal itu cocok disematkan kepada tiga anggota JI yang baru saja di eksekusi tersebut.

Apapun alasanya apapun dalihnya kelakuan mereka memang tidak bisa di tolelir, karena tidak saja orang yang tidak berdosa kehilangan nyawa, banyak dari mereka yang cacat seumur hidup bahkan kehilangan pencaharian atas ulah mereka. Rasanya julukan pendukung teroris pantas diberikan bagi mereka yang mendukung tindakan amrozi cs tersebut.

Eksekusi Bukan Balas Dendam, Tetapi sebuah Pelajaran dan Pencegahan disentegrasi Bangsa

menurut sebuah ajaran agama tertentu, seorang pembunuh harus di bunuh, kecuali mendapat pengampunan dari keluarga korban. Sedangkan di negara kita dan umumnya negara yang memiliki perangkat hukum yang lebih modern dari sekedar aturan hukum yang berusia ribuan tahun, mereka lebih lunak dalam memberikan hukuman bagi pembunuh. Karena mereka biasanya melihat latar belakang dan alasan terjadinya pembunuhant tersebut. Namun rasanya bila berkaitan dengan hukuman bagi pembunuh masal dan terorisme, seluruh negara didunia akan menempatkan pelakunya kedalam daftar – death row alias hukuman mati atau minimal hukuman seumur hidup! Jadi apapun dalihnya apapun dasar hukum yang dipakai rasanya hukuman mati bagi ketiga tersangka teroris Bom Bali memang pantas untuk dilaksanakan.

Bila ada kelompok yang menentang hukuman mati bagi ketiga pelaku bom bali tersebut, artinya mereka tidak saja merupakan pendukung terorisme – ingat bukan karena hukuman mati  bertentangan dengan kemanusiaan, tetapi artinya mereka justru tidak memikirkan penderitaan korban tragedi bom bali tersebut , termasuk perasaan kerabat dari mereka yang menjadi korban plus komunitas masyarakat bali yang terkena imbas kebiadaban tersebut. Sebuah pelajaran berharga bagi seluruh komponen masyarakat bahwa bagi mereka yang melakukan tindakan kekerasan apalagi dapat mengancam integrasi memang tidak layak untuk hidup di bumi pertiwi ini.

Rasionalitas dan Kemakmuran adalah Obat Bagi Terorisme

Kemiskinan dan kesulitan secara ekonomi dapat membuat seseorang kehilangan rasionalitas. Perampokan, pencurian dan penjarahan merupakan efek dari kehilangan sikap rasionalitas tersebut. Namun tidak berhenti sampai di situ, bagi sebagian orang mereka akan mengharapkan mukjizat bagi penyelesaian permasalahan dengan kembali ke agama. Sebuah tindakan yang tidak bisa disalahkan. Hanya saja kerap dari mereka yang justru terjerumus kedalam ektrimisme dimana mereka yang kembali “ke agama” malah dibujuk dan dijadikan alat bagi sekelompok orang untuk melakukan tindakan gila dan merugikan atas nama agama dengan iming iming kemakmuran di kehidupan lainya tanpa perlu berpikir panjang.

Seandainya krisis ekonomi tahun 97 tidak meluas hingga terciptanya krisis politik 98 dan berujung pada krisis multidimensi berkepanjangan, niscaya tindakan ektrimisme yang dilakukan oleh orang orang yang telah frustasi akibat krisis kemakmuran berubah menjadi kelompok orang yang mengharapkan penyelesaian masalah dengan jalan pintas, salah satunya menjadi teroris dengan mengharapkan janji surga. Mereka tidak saja telah kehilangan sikap rasional tetapi juga merusak tatanan hidup dan mengancam disentegrasi bangsa! Kemakmuran, kesetabilan ekonomi dan demokrasi yang terdidik  merupakan solusi lanjutan merupakan penopang jangka panjang bagi pencegahan tindakan irasional yang berbasis ekstrimisme tidak saja di indonesia tetapi juga di dunia!

artobamaspeech01cnn

Kemenangan Obama, mematahkan irrasionalitas

Seorang afrika amerika, seorang keturunan pendatang, dan pernah tinggal cukup lama di indonesia merupakan titik kelemahan Barack Obama dalam menempuh jalan menuju white house. Amerika serikat merupakan negara yang memiliki heterogenitas paling tinggi di dunia setelah australia dan disususul belanda. Tetapi mengapa Senator Obama bisa menang ?

Karena rakyat amerika ternyata sudah mulai dewasa dan rasional. Meski tidak terlepas dari kesalahan terbesar mereka dengan memilih George W Bush yang justru menjerumuskan mereka ke jurang krisis moneter. Mereka mampu mengesampikan permasalahan Rasial yang amat irrasional demi mendapatkan perbaikan. Ketibang memilih Senator John Mc Cain yang uzur dan memiliki alur politik yang sama dengan George W Bush mereka cenderung memilih Obama yang memiliki visi ekonomi yang bisa lebih jelas.

Jiwa Besar John Mc Cain dan Tidak Lakunya Palin

tidak seperti kebanyakan pejabat di indonesia dimana ketika kalah pilkada justru melakukan protes, boikot bahkan pengerahan massa hingga paling lumrah yaitu menjadikan dirinya oposisi. Senator Mc Cain langsung memberikan ucapan selamat, membesarkan hati pendukungnya bahkan langsung menawarkan bantuan dan dukunganya pada pemerintahan berikut.

Sarah Pallin, pada awalnya dijadikan senjata bagi John Mc Cain, namun seiring berjalanya waktu semakin terkuak bahwa ketidak mampuan Pallin dan aura keibuan yang menjadi jualan mereka terasa irrasional. Hal ini menunjukan kedewasaan rakyat Amerika dalam memilih, yaitu : Tidak  terbuai dengan jualan irrasional yang hanya mengandalkan ikatan emosional semata!

Indonesia, Bisakah Sedemokrasi dan Seadil  Amerika ?

Memang dalam urusan kesetaraan gender, indonesia sudah berada di depan Amerika serikat, ya Kita pernah punya presiden wanita yaitu Ibu Megawati Soekarno Putri dan bukan tidak mungkin kita akan memilikinya lagi. Tetapi apakah kita siap memiliki pemimpin yang berasal dari etnis dan agama minoritas ? Sebuah pertanyaan besar dan dibutuhkan kedewsaan luar biasa untuk membiasakan diri bagi tiap warga negara indonesia untuk mementingkan akal, rasionalitas dan kemampuan untuk kemudian mengesampikan masalah rasial dan religi demi mecapai kemakmuran.

Berbeda dari film Fitna, Obsession merupakan film Dokumenter Biasa

Film Obsession yang dirilis tahun 2006 merupakan sebuah film dokumentar yang membahas mengenai terorisme dan gerakan  radikal berbasis agama tertentu yang memiliki tujuan untuk menyeragamkan tatanan peradaban dunia berdasarkan penafisran mereka yang sudah pasti anti terhadap demokrasi, liberalisme apalagi sekularisme. Penyeragaman yang dimaksud adalah untuk menjadikan seluruh dunia berada di sebuah hukum berbasis theokrasi dalam tafsiran kelompok teroris radikal.

Film obsession berbeda dengan film Fitna yang beberapa waktu yang lalu sempat membuat heboh dunia cyber dimana film Fitna tidak lebih dari sebuah film propaganda “low budget” yang dikemas asal asalan dan sangat eksplisit menunjukan ke biasanya.

Menguak Fakta dan Membawa Peringatan bagi Umat Beragama

Sebaliknya, film obsesion, menggambarkan dan menguak fakta dimana gerakan radikal sebuah agama tertentu mampu berkembang dikalangan umum akibat sikap “lepas tangan” kelompok moderat. Dan difilm ini juga diungkap bahwa gerakan kelompok radikal tersebut merupakan sebuah kanker yang tumbuh di dalam agama yang selama ini dijadikan basis propaganda kelompok tersebut. Sebuah fakta yang menyakitkan bahwa kelompok radikal tersebut hanyalah menjual kesucian sebuah agama demi memenuhi obsesi bejat kelompok radikal tersebut.   Film ini mampu menjelaskan secara ilmiah satu persatu potensi dan akibat yang terjadi bila sebuah radikalisme berbasis theokrasi dibiarkan hidup didalam sebuah komunitas yang semakin maju dan amat menjuntung tinggi HAM.

Keliru Jika Menganggap Ajakan Melakukan Introspeksi dan Mawas Diri Merupakan Penghinaan

sebuah website kontroversial dan penuh propaganda menganggap film dokumenter Obsession merupakan sebuah film propaganda yang menjurus pada usaha mendiskreditkan sebuah agama tertentu. Merupakan sebuah penilaian yang amat keliru bila timbul anggapan demikian. Karena justru seharusnya film ini dapat dijadikan sebuah referensi yang berguna untuk menyadarkan seluruh komunitas berfikir dan waspada atas bahaya laten radikalisme berbasis theokrasi yang kian mengancam peradaban manusia. Sungguh keliru bila tanda akan adanya bahaya laten justru ditanggapi dengan sikap defensif dan menganggapnya sebuah usaha pendiskreditan.

sumber gambar di sini

Seperti yang telah kita ketahui bersama sejak terjadinya Reformasi dimana Demokrasi dan liberalisme dalam berbicara diterapkan secara nyata dan konsisten, timbul kembali fenomena dimana beberapa ormas ekstrimis berbasis Theokrasi yang secara terang terangan menentang penerapan faham yang disebut demokrasi dan liberalisasi. Padahal banyak fakta unik statement mereka yang mengebugebu tersebut.

Ketakutan Pengusung Sistem Theokrasi Terhadap Sistem Demokrasi dan Liberalisme

Seperti yang telah diketahui oleh masyarakat pada umumnya bahwa ormas ormas berbasis theokrasi umumnya sangat menentang dengan apa yang disebut sistem Demokrasi dan liberaslisme. Hal ini patut diketahui mengingat mereka sendiri memiliki rasa ketakutan yang luar biasa terhadap apa yang dinamakan penerapan Demokrasi dan liberalisme.

Disini kita tidak akan membahas mengenai kelemahan mendasar sistem Theokrasi terhadap penerapan Demokrasi dan faham liberlisme. tetapi sekedar garis besar mengapa ormas pengusung sistem Theokrasi sedemikian anti dan phobia terhadap penerapan demokrasi dan liberalisme.

Hal ini didasari karena umumnya ormas tersebut menjadikan sebuah ajaran agama sebagai dasar ideologi dan menjadikan kitab suci maupun penafsiran para ahli kitab sebagai landasan hukum mutlak yang tidak dapat diganggu gugat. Padahal kitab dan tafsiran yang mereka miliki berasal dari ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu dimana bila diterapkan secara laterlek akan sangat irelevan dengan kondisi dunia saat ini.

Dengan adanya Demokrasi (kebebasan berbicara) dan Dimana masyarakat yang semakin kritis dapat dengan leluasa mempertanyakan relevansi dasar hukum yang mereka gunakan, untuk kemudian  mempertanyaakan relevansi dan penerapanya dalam dunia saat ini. Hal ini juga termasuk juga yang berkaitan dengan Hak asasi manusia. Sehingga ketika itu pulalah akan timbul banyak pihak yang menginginkan perubahan dasar hukum (berdasarkan fleksibilitas liberalisme) yang tentunya mereka (ormas berbasis theokrasi) akan menolaknya. Karena alasan itulah daripada kalah berargumen dan dipermalukan didepan publik, ormas tersebut memutuskan untuk menolak kehadiran demokrasi dan liberalisme dengan atau tanpa argumen sekalipun.

Ormas Anti Demokrasi Seperti HTI, MMI, hingga FPI Hidup Karena Demokrasi dan Liberalisme

Apakah ada yang dinamakan partai pengusung ajaran Komunis di Arab Saudi? Apakah Hizbutharir bisa hidup dibawah bendera RRC? Bisakah kita menemukan ormas bernama FPI di Korea Utara ? Tidak! Karena dinegara non demokrasi tidak akan memberikan ruang dalam bentuk apapun bagi  Ormas manapun yang memiliki pandangan apalagi ideologi yang bersebrangan dengan sistem pemerintahan yang sah. Tetapi sebaliknya di negara Demokrasi dan penganut paham liberal mereka tetap memberikan ruang hidup bagi oramas seperti itu. Hal ini dasari karena azas  kebebasan berbicara (demokrasi) yang tetap dijunjung tinggi oleh negara penganut Demokrasi. Jadi justru terlihat amat janggal dan terkesan “tidak tahu diri” bila ormas-ormas berbasis theokrasi tersebut kerap mengecam dan menghujat demokrasi dan liberalise dalam propagandanya.     

Pertanyaan Klise dan Retorik : Tapi Nyata !

Bolehkah seorang wanita (terlepas apapun keyakinanya) berjalan sendirian di tempat umum tanpa mengenakan Hijab di Arab Saudi (Contoh) tanpa mendapat ancaman hukuman ataupun resiko pemerkosaan dari warga maupun otoritas setempat ?

Bandingkan

Sebaliknya, apakah ada pelarangan dan resiko ancaman nyata bagi seorang wanita (apapun keyakinanya) untuk berjalan di tempat umum sendirian dengan mengenakan hijab bahkan cadar di negara yang berhukum sekuler semisal Australia atau belanda ?

 Fakta : Negara  Berorientasi Liberal Merupakan Tujuan Favorit Imigran 

Coba di pikir baik baik, Kenapa negara penganut dan yang menerapkan sistem liberalisme (umumnya eropa barat) menjadi tujuan migrasi favorit dari Imigran yang datang dari negara yang tidak demokrasi maupun bersistem theokrasi.

Atau  

Berapa rasio perbandingan  jumlah imigran yang berasal dari negara berazas theokrasi maupun non demokrasi  di negara bersistem sekuler-liberal bila dibandingkan dengan keadaan sebaliknya ?

Penerapan hukum sekuler-Liberal, lebih bebas, Lebih Rasional dan tidak mengekang

Dalam penerapanya hukum sekuler-liberal merupakan tatanan hukum yang mengedepankan asas demokrasi, HAM dan rasionalitas. Sehingga persoalan – issue yang yang dikarenakan oleh friksi yang tercipta di dalam tatanan masyarakat maupun koridor hukum akan diselesaikan melalui cara yang rasional dan fleksibel.

Sehingga hal seperti ini akan meminimalisir sesuatu penerapan kata “mutlak” ataupun “Pokoknya”, karena penerapan sebuah hukum di dalam tatanan kehidupan masyarakat sekuler-liberal tidak mengenal istilah Mutlak yang amat erat dengan proses pendiskriminasian. Mutlak sendiri merupakan penerapan keputusan yang tidak dapat diganggu gugat.  Efek Diskriminasi yang sering terjadi adalah diskriminasi Gender, Ras, Adat hingga diskriminasi Agama.  Meski umumnya kebanyakan tindakan diskriminatif tersebut kerap menggunakan Agama sebagai dalih tindakan diskriminasi tersebut. Karena keputusan yang berdasar dari agama konon identik dengan kata “mutlak”   

Disinilah keutamaan Selkuarisme dibanding sistem pemerintahan penganut theokrasi, dimana tidak ada alasan apapun bagi seseorang atau kelompok yang memaksakan kehendaknya (yang ia yakini) terhadap orang lain, dengan dalih apapun. Karena untuk mematahkan dalih “pemaksaan atas nama Agama” yang notabene memiliki faktor “Mutlak”  Sistem Sekularisme mematahkanya dengan : menempatkan bahwa “Faktor Agama merupakan hak pribadi seseorang yang tidak bisa dicampur baurkan kepada kehidupan bermasyarakat yang heterogen” atas dasar argumen tersebut, secara langsung sistem sekularisme juga melindungi kesucian agama dari pihak yang ingin mengksploitasi agama untuk tujuan tertentu.    

Penerapan pola Sekularisme dan Liberalisme amat mengedepankan asas Rasionalitas, sehingga memicu manusia yang dikaruniai akal dan pikiran untuk terus mengkaji, mengembangkan dan menganalisa sebuah permasalahan yang ada untuk diselesaikan secara rasional. Bukan dengan memberangus akal pikiran dengan dalih sesuatu hal yang memiliki sumber mutlak. Karena pada dasarnya zaman terus berubah, berkembang dan berjalan, sehingga amat tidak rasional jika untuk memecahkan persoalan sebuah negara hanya mengambil kesimpulan dari sebuah hukum yang berusia ratusan-ribuan tahun yang lalu dimana hukum tersebut sudah sangat out dated dan memiliki ruang lingkup yang amat sempit. Yang membuat hukum tersebut tidak bisa diterapkan di dunia saat ini yang mana unsur heterogenitas universal merupakan fakta nyata dalam kehidupan sehari hari. Makanya negara Sekuler-Liberal memiliki keunggulan hampir di semua segi bila dibandingkan negara berazas Theokrasi dan non demokrasi.

 

Oleh: Orang Aneh | September 15, 2008

Siapa Bilang USA adalah Negara Liberal Yang Demokrasi ?

Amerika Serikat dalam kurun waktu 8 tahun terakhir, khususnya di masa kepemimpinan Geroge W Bush mengklaim bahwa negaranya sebagai pembawa Kebebasan, liberalisasi dan Demokrasi. Namum kenyataanya justru Amerika bertindak layaknya Josph Stallin digabungkan dengan Osama Bin Laden plus Abu Bakar Baashir.

Anti Demokrasi

Demokrasi adalah  bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.

Lalu yang dilakukan AS saat ini terutama dalam kebijakan luar negrinya justru kontra Demorasi. Seperti ketika mereka berusaha menjatuhkan pemerintahan Venezuela pimpinan Hugo Chavez. Padahal Chavez merupakan pemimpin sah sebuah negara republik yang memilih presidenya secara langsung.

Anti Liberalisasi

Berkaitan dengan politik dagan China – the next super power, amerika justru kerap mempermasalahkan sistem perdagangan bebas gaya tionkok, yang hingga kini memang bukan anggota WTO. Belum lagi upaya mereka melakukan pembatasan atas impor produk China ke pasar dalam negri. Dengan dalin melindungi produk lokal. Padahal jika di balik, siapakah yang menginginkan perdagangan bebas? Hal ini jelas menunjukan amerika serikat merupakan sebuah negara anti liberalisasi.

Belum termasuk penentangan AS terhadap Liberalisasi Teknologi, seperti yang dilakukan AS terhadap Proyek reaktor Nuklir Sipil IRan. Bahkan AS menjadikan topik ini sebagai dasar pre-emptive strike As terhadap IRan. Meski kecil kemungkinan terealisasi oleh AS.

Anti Kebebasan

Pasca serangan 11 september, di amerika serikat diterapkan sistem – Home Land Security Act – simple nya adalah undang undang yang menetapkan sistem baru dalam memata matai warga negaranya. Jangankan para imigran, warga kulit putih pun mengeluhkan akan hilangnya privasi, seperti kebebasan dalam berbicara (neighbor watch and free speech violation) hingga penyadapan dari mulai telefon, fax hingga E-mail. Hal ini mengingatkan kita pada masa Jerman terbagi dua, dimana di Jerman Timur hampir 1/3 warga negara jerman timur diawasi oleh Stasi.

Effek Buruk Pre-Emptive Strike

Serangan pendahuluan demi melindungi diri sebelum di serang musuh, merupakan alasan Amerika Serikat menginvasi Iraq. Namun effeknya adalah tindakan tersebut diikuti negara lainya semisal Georgia terhadap Ossetia Selatan. Akibatnya kini Georgia mengalami kehancuran akibat serangan balik Russia. Ini tidak termasuk berbagai konflik regional yang dipicu pemerintah yang meniru tindakan AS.

Kesimpulan – Liberalisme Tidak Berarti Amerika Serikat

Jika menganggap simblo Demokrasi Liberal adalah Amerika Serikat, nampaknya hal itu perlu tinjau ulang. Karena sesungguhnya justru Amreika serikatlah yang memutar balikan sejarah dunia dimana Amerika serkat justru negara terbesar pelanggar HAM dan Demokrasi yang pernah ada di muka bumi.

Awal Yang Baik sebagai Respon 11 September.

Tidak ada hujan, tidak ada angin. 11 September infrastruktur sipil amerika serikat di hantam dua buah pesawat sipil, setelah di bajak oleh teroris yang berasal dari Al Qaeda. Belum termasuk serangan ke pentagon dan gagalnya usaha serangan ke camp david. Apapun itu yang jelas dunia terhenyak, setelah ribuan warga sipil tewas karena serangan teroris tersebut.

Berbagai simpati dari seantero bumi mengalir ke AS. Presiden Georoge W Bush yang baru menduduki jabatan presiden, belum setahun langsung mengumumkan perang melawan terorisme. Sebuah tindakan yang dianggap melegakan terutama bagi warga AS yang masih shock sekaligus geram akibat ulah teroris tersebut.

Afghanistan, Taliban memang pantas di serang.

Afghanistan yang ketika itu dikuasai oleh rezim Taliban dimana rezim tersebut telah melakukan berbagai macam kejahatan HAM, semisal melarang kaum wanita untuk bersekolah, melakukan pembantaian bagi penduduk yang menjadi oposan hingga merebut kekuasaan dari pemerintahan yang sah (termasuk membunuh Ahmad Shah Massoud, seorang tokoh yang berperan memerdekakan Afghanistas dari Uni Soviet) merupakan sedikit dari kekejaman yang dilakukan rezim Taliban yang amat erat dengan Al Qaeda.

Afghanistan memang dikenal sebagai “peternakan teroris” karena tidak saja serangan 11 september, namun serangan bom Bali dan Mariot memang dilakukan oleh para teroris Alumnus Afghanistan. Itu belum seberapa jika ditambahkan bahwa perkebunan / ladang opium terbesar di dunia adalah berasal dari negri yang rawan konflik tersebuit.

Tidak ada alasan lain ataupun yang meringankan bagi rezim Taliban kecuali mereka digulingkan demi menjamin keamanan global. Tidak sanya AS dan NATO, Russia yang selalu menentang keputusan barat pun rela menyuplai persenjataan bagi Aliansi Utara demi meluluh lantakan rezim Taliban. Kurand dari setahun Rezim Talibanpun tumbang, dunia bersorak, meski disebut negara boneka tetapi setidaknya negara yang kini dipimpin Hamid Karzai tersebut tidak lagi menjadi sarang ekstrimis dan teroris dalam jumlah besar.

Serangan Ke Iraq, Awal Kegagalan War On Terror

Sebuah negara berdaulat, dituduh oleh Amerika serikat memiliki senjata pemusnah massal. Meski segala aturan yang diberikan PBB termasuk mengizinkan IAEA melakukan inspeksi untuk kemudian membuktikan bahwa Iraq tidak memiliki senjata pemusnah massal ternyata tidak cukup kuat untuk melindungi Iraq daris serangan  pre-emptive strike AS, UK dan Autralia.

Oprasi badai gurun ke dua pun berlanjut. Hasilnya Saddam Hussein berhasil di gulingkan, kedua anaknya dibantai dan iapun di eksekusi. Meskipun akhirnya AS mengakui bahwa tidak ada senjata pemusnah masal, tetapi mereka masih yakin bahwa tindakanya untuk menumbangkan rezim Saddam Husein adalah tindakan yang benar.

Publik pun mengetahui bahwa alasan perang ke Iraq adalah untuk mengambil minyak bumi, lain tidak. Kecaman demi kecaman hadir, tidak saja dari Russia dan China yang merupakan sekutu dekat Iraq, Prancis, Jerman hingga Indonesiapun mengecam serangan tersebut. Tetapi Nasi sudah jadi bubur, kini Iraq merupakan no-mans-land, dimana faksi Sunni, Syiah, Alqaeda, US Army hingga PMC memperebutkan pengaruhnya. Sedikit demi sedikit terkuak, kejahatan kemanusiaan yang dilakukan militer AS dan PMC terhadap sipil iraq, membuat dukungan global terhadap war on terror semakin surut. Ini juga diperparah dengan konflik internal Sunni-Syiah yang justru menelan korban lebih banyak dari serangan awal badai gurun tahap 1. Awal kegagaln dari “war on teror” pun dimulai.

Di Dalam Negri, Pemerintahan mereka kehilangan dukungan

Kegagalan partai Republik dari Demokrat di AS, kejatuhan pemerintahan Tony Blair hingga digantinya John Howard oleh Kevin Rudd adalah contoh kongkrit bahwa setelah dilakukan serangan ke IRaq seluruh pemerintahan dari tiga negara tersebut kehilangan dukungan. Bisa disimpulkan bahwa kemengan mereka pada pemilu sebelumnya, saat mereka memulai oprasi di Afghanistan berbalik menjadi kunci kegagalan mereka mempertahankan pemerintahan dan dukungan rakyat. Kebalikanya, oposisi penentang perang di Iraq justru mendapat angin segar, karena rakyat mereka sudah muak dengan perang dan menginginkan kedamaian.

War on Terror ? Make the best of it

Sulit bagi AS untuk memenangkan perang melawan terorisme setelah apa yang mereka lakukan di Iraq. Menarik mundur pasukan dari Iraq sama saja meninggalkan tanggung jawab. Meraih simpati dunia, tidak semudah itu. KArena disamping lebih dari 30.000 warga sipil di iraq telah menjadi korban, dan tentara mereka hampir 5000 orang tewas sia sia. Sedangkan belum ada progress yang jelas mengenai penangkapan osama bi laden. Satu satunya yang dapat di lakukan AS untuk meraih posisi di dalam global war on teror adalah : benar benar mengamankan afghanistan dan membuat pemerintahan Boneka yang benar benar kuat di Iraq, jika tidak  rasanya sulit buat AS untuk mencapai keinginannya.

Oleh: RETORIKA | September 4, 2008

Palestina & Georgia Anda Miskin, Anda Ditinggalkan !

Presiden Saakhasvili geram dan kesal bukan kepalang setelah aksi provokasinya terhadap Russia dengan menyerang Ossetia Selatan berakhir dengan dipermaluknya Georgia secara militer. Dukungan Barat yang selama ini telah membuat dirinya terlena ternyata hanya sebatas “kecaman” terhadap militer Russia dan pemerintahan Dimitry Medvedev.

Anda Miskin Anda Ditinggalkan !

Selain dari posisi geografis Georgia yang memang berhadapan dengan Russia, satu satunya keuntungan yang dapat dijadikan nilai jual Georgia adalah dilaluinya Georgia oleh pipa minyak. Lain tidak. Artinya Gerogria yang secara ekonomi amat tergantung dengan Russia dan Eropa barat tidak memiliki nilai jual lain, kecuali menerima keadaan dimana dunia barat yang selama ini amat Saakhasvili sembah2 mencampakan negaranya begitu saja.

Kalaupun bantuan datang nampaknya sudah terlambat. Dimana dua provinsi mereka Abkasia dan South Ossetia telah lepas dari genggaman dan merekapun harus menerima dipermalukan secara militer dan diplomatik. Sebuah pelajaran berharga bagi sebuah negara kecil yang bermain dengan negara Super Power.

Palestina, Lebanon dan sebuah Contoh lain

Bertahun tahun palestina mengusahakan kemerdekaanya, Lebanon yang kedaulatanya yang terbagi bagi. Adalah sebuah contoh lain dari realitas dimana politik akan bergejolak manakala ada kepentingan ekonomi di dalamnya.

Ambil Contoh Kuwait dan Timor Timur, dimana seluruh dunia berlomba lomba menyelamatkan mereka dari genggaman “tirani” karena kedua negara dianggap memiliki SDA yang melimpah. Kuwait berhasi diselamatkan oleh koalisi Dunia, dan kembali makmur. Tidak seperti yang dialami Timor Leste. Apa lacur, dikira emas ternyata hanyalah sampah, Timor Timur ditinggalkan begitu saja oleh Australia. Begitu mengetahui bahwa Timor Timur hanyalah sebuah negara miskin yang tidak memiliki SDA. Kini Timor Timur menjadi sebuah negara gagal yang mengemis kepada Indonesia dan Australia.

Seperti Palestina, Usaha penyelamatan yang dilakukan Anwar Saddat pada tahun 1973 tidak lepas dari keinginan Mesir yang dibantu Suriah dan Jordan untuk menjadi sebuah kekuatan tersendiri di timur tengah. Namun  tatkala Kucuran bantuan ekonomi dari AS mengalir terutama pada Mesir dan Jordan setelah menghentikan konflik dengan Israel. Bahkan Messir dan Jordan membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Jika Anda Tidak Memiliki Apa Apa, Jangan Mengharap Apa Apa !

Seperti juga Georgia, Palestina dan Lebanon, jangan pernah mengharap akan ada seorang baik yang datang untuk menolong anda jika anda tidak memiliki nilai jual. Iran dan Suriah yang kerap memberikan bantuanpun terlalu NAIF jika menganggap mereka adalah dewa penolong. Popularitas dalam negri Ahmadinejad dan keinginan Iran dan Suriah untuk tetap eksis di wilayah Timur Tengah sebagai kekuatan yang memiliki “Deterent” adalah salah satu alasan mengapa mereka kerap menolong Palestina-Lebanon.  Sesungguhnya kepentingan dalam negri melebihi ikatan emosional terhadap negara manapun.

Oleh: RETORIKA | September 4, 2008

Ingin Menjadi Seperti Iran ? Bullshit !

Ya sebagian orang banyak mengagumi Iran setelah sekian lama di embargo oleh negara adidaya AS dan Uni Eropa. Tidak saja para pengikut Islam Syiah, beberapa organisasi penentang Islam syiah seperti yang dilakukan corong cybernya : Eramuslim juga turut mengaguminya. Baik dari segi kemandirian ekonomi maupun kemandirian teknologi baik sipil dan militer.

Blessing in Disguise 

Namun pada dasarnya kemampuan Iran menjadi sebuah negara mandiri yang dikatakan “cukup” makmur bukan mutlak karena kehandalan dan reformasi yang dilakukan pasca kejatuhan shah iran. Tetapi jauh kebelakan mereka sendiri telah “diberkati” oleh berbagai event yang terjadi sebelumnya.

Oil Booming pasca perang Yom Kippur menjadi salah satu indikator. Disaat liga-arab melakukan boikot terhadap ekspor minyak, Iran yang saat itu menjadi salah satu sekutu dekat AS melakukan expor besar2an kepada AS/Barat. Devisa melonjak membuat iran menjadi seharusnya menjadi negara makmur layaknya Dubai dan UAE. Tetapi sayang revolusi Islam yang terjadi pada tahun 1979 membuat hubungan negara ini dengan barat menjadi buruk untuk kemudian beralih kepada Soviet-China.

Alih alih mengalami “Chaos” gerakan revolusi yang didukung rakyat ini justru mampu menyelamatkan asset dan peninggalan warisan hubungan diplomatik dengan AS. Ditengah ancaman embargo AS, Iran mampu memanfaatkan asset yang ada untuk meningkatkan kemampuan kemandirian ekonomi mereka.

Nilai Tawar Iran Cukup Tinggi

Meski diberi sangsi embargo, Iran merupakan sebuah negara yang memiliki cadangan minyak yang terbesar, dan tawaran melakukan ekspor dengan harga yang “menggiurkan” terhadap musuh barat seperti China dan Russia menjadikan IRan memiliki nilai tawar yang cukup tinggi.

Satu hal yang harus di akui bahwa devisa negara yang mereka gunakan kebanyakan adalah untuk industri dasar seperti Sandang, Pangan maupun apapun kebutuhan yang sekiranya bisa tidak perlu di impor maka akan dibuat sendiri. Karenanya meski tidak se megah negara teluk lainya, setidaknya tidak ada warga mereka yang kelaparan. Sehingga taraf kemakmuran normal mampu mereka capai walau di dalam kondisi diemargo AS-Uni Eropa.

Ketergantungan ekonomi dua super power terhadap IRan, membuat negara “musuh” mereka berpikir 2 kali untuk melakukan tekanan secara fisik, selain hanya memberikan ancaman melalui sanksi embargo. Tidak seperti negara yang makmur namun tidak mandiri, iran adalah negara mandiri sehingga merupakan hal yang sulit bagi negara manapun untuk melakukan infiltrasi kepada pemerintahan iran saat ini.

Intinya Sulit menjadi Seperti IRan

Bagi negara dunia ketiga, mendambakan kemakmuran dan kemandirian yang dimiliki Iran adalah hal yang sulit (yang pasti tidak ada yang menginginkan bermusuhan dengan AS-Uni Eropa, termasuk juga Iran) karena tidak hanya dibutuhkan strategi pembangunan yang tepat, namun  serangkaian “keberuntungan” yang dialami dan dimiliki Iran juga  berperan membuat negara ini menjadi Solid seperti batu krikil (kecil namun Keras)  

Oleh: RETORIKA | September 4, 2008

Keberpihakan Di Dalam Politik Global

Saat ini terutama di kota besar sering kita melihat slogan, anti Amerika, Israel dan berbagai negara barat. tidak cuma berusaha melakukan boikot tetapi sampai pada titik melakukan generalisasi. Padahal kenyataanya sungguh kontras dengan apa yang terjadi di lapangan. Ambil contoh usaha keras melalui demonstrasi yang dilakukan ormas semisal FPI, HTI maupun MMI yang menginginkan putusnya hubungan diplomatik dengan barat. Apakah hal tersebut dapat dikatakan dewasa? Saia rasa dibutuhkan pengamatan lebih lanjut sebelum berteriak teriak berdasarkan emosi ketimbang mengandalkan akal dan pikiran yang jernih.

Intinya adalah Keuntungan negara sendiri harus diutamakan.

Ketergantungan Indonesa dan hampir seluruh negara di dunia terhadap bangsa lain terutama barat adalah sebuah fakta yang tidak terelakaan. Demikian pula tingginya ketergantungan barat akan negara yang berasal dari region baik timur jauh, timur tengah hingga Asia tenggara. Karena hal itulah terciptanya istilah “pasar global”

Untuk menjalankan ekonomi dan memajukan bangsanya sebuah pemerintahan diharuskan mengekspor sumberdaya yang mereka miliki untuk mendapatkan devisa yang kelak dipergunakan baik untuk mengimpor sumber daya yang tidak mereka miliki ataupun membangun infrastruktur. Seperti halnya jual beli pada umumnya, setiap negara memiliki posisi tawar-menawar terhadap negara lainya, dan hal ini tidak lepas dari seberapa margin keuntungan yang bisa diperoleh sebuah negara dengan menjatuhkan pilihanya kepada negara lainya. Dan hal ini tidak dipengaruhi oleh sentimen emosional ataupun ikatan lainya selain dari kepentingan politik dan ekonomi setelahnya.

Singkatnya posisi tawar menawar dalam percaturan politik dan ekonomi global amat tergantung pada kepentingan negara yang bersangkutan, bukan dikarenakan faktor emosional semata.

Keberpihakan dan Trik Politik

Yang paling segar saat ini adalah wacana mengenai pemutusan hubungan dengan barat yang dibangun oleh ormas dari agama tertentu, yang dengan sendirinya akan menunjukan  kejelian dan kedewasaan berpikir ormas tersebut.  Padahal semua orang tahu akan tingginya ketergantungan indonesia dengan negara barat (negara timur juga tidak kalah sih) karenanya dengan adanya isu seperti tersebut artinya menunjukan betapa emosionalnya mereka yang menginginkan pemutusan hubungan tersebut.

Disamping akan menimbulkan goncangan ekonomi hebat, Indonesiapun akanterkucil dari pergaulan global. Walau negara ini masih memiliki hubungan dengan negara super power lainya, katakanlah China dan Russia. Tetapi apakah mereka akan pasang badan demi Indonesia? Tidak! karena merekapun memiliki kepentingan internal sendiri yang pastinya tidak bisa dipenuhi oleh Indonesia.

Untuk itulah indonesia diharuskan untuk terus menjalin hubungan diplomatik yang bebas-aktif tidak saja kepada negara timur namun juga kepada negara barat. Dimana Indonesia diharapkan memiliki peran aktif dalam percaturan global. Karena pada intinya sebuah negara  bisa menjadi besar dan makmur dikarenakan negara tersebut mampu mengekspolitasi potensinya (sehingga memiliki nilai tawar yang tinggi) dan didasari pikiran jernih, perhitungan yang tepat serta kemampuan berdiplomasi yang baik, bukan didasari sikap emosional dan tendensi untuk mengisolasi diri dari politik global.

« Newer Posts

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.