kegembiraan Amrozi Saat divonis mati – sekarang malah menolak habis habisan
Eksekusi Mati Pantas Bagi Amrozi Cs
Membunuh lebih dari 200 orang, merusak perekonomian Bali, melakukan penodaan terhadap agama hingga melakukan tindakan yang mengancam integrasi bangsa rasanya hal itu cocok disematkan kepada tiga anggota JI yang baru saja di eksekusi tersebut.
Apapun alasanya apapun dalihnya kelakuan mereka memang tidak bisa di tolelir, karena tidak saja orang yang tidak berdosa kehilangan nyawa, banyak dari mereka yang cacat seumur hidup bahkan kehilangan pencaharian atas ulah mereka. Rasanya julukan pendukung teroris pantas diberikan bagi mereka yang mendukung tindakan amrozi cs tersebut.
Eksekusi Bukan Balas Dendam, Tetapi sebuah Pelajaran dan Pencegahan disentegrasi Bangsa
menurut sebuah ajaran agama tertentu, seorang pembunuh harus di bunuh, kecuali mendapat pengampunan dari keluarga korban. Sedangkan di negara kita dan umumnya negara yang memiliki perangkat hukum yang lebih modern dari sekedar aturan hukum yang berusia ribuan tahun, mereka lebih lunak dalam memberikan hukuman bagi pembunuh. Karena mereka biasanya melihat latar belakang dan alasan terjadinya pembunuhant tersebut. Namun rasanya bila berkaitan dengan hukuman bagi pembunuh masal dan terorisme, seluruh negara didunia akan menempatkan pelakunya kedalam daftar – death row alias hukuman mati atau minimal hukuman seumur hidup! Jadi apapun dalihnya apapun dasar hukum yang dipakai rasanya hukuman mati bagi ketiga tersangka teroris Bom Bali memang pantas untuk dilaksanakan.
Bila ada kelompok yang menentang hukuman mati bagi ketiga pelaku bom bali tersebut, artinya mereka tidak saja merupakan pendukung terorisme – ingat bukan karena hukuman mati bertentangan dengan kemanusiaan, tetapi artinya mereka justru tidak memikirkan penderitaan korban tragedi bom bali tersebut , termasuk perasaan kerabat dari mereka yang menjadi korban plus komunitas masyarakat bali yang terkena imbas kebiadaban tersebut. Sebuah pelajaran berharga bagi seluruh komponen masyarakat bahwa bagi mereka yang melakukan tindakan kekerasan apalagi dapat mengancam integrasi memang tidak layak untuk hidup di bumi pertiwi ini.
Rasionalitas dan Kemakmuran adalah Obat Bagi Terorisme
Kemiskinan dan kesulitan secara ekonomi dapat membuat seseorang kehilangan rasionalitas. Perampokan, pencurian dan penjarahan merupakan efek dari kehilangan sikap rasionalitas tersebut. Namun tidak berhenti sampai di situ, bagi sebagian orang mereka akan mengharapkan mukjizat bagi penyelesaian permasalahan dengan kembali ke agama. Sebuah tindakan yang tidak bisa disalahkan. Hanya saja kerap dari mereka yang justru terjerumus kedalam ektrimisme dimana mereka yang kembali “ke agama” malah dibujuk dan dijadikan alat bagi sekelompok orang untuk melakukan tindakan gila dan merugikan atas nama agama dengan iming iming kemakmuran di kehidupan lainya tanpa perlu berpikir panjang.
Seandainya krisis ekonomi tahun 97 tidak meluas hingga terciptanya krisis politik 98 dan berujung pada krisis multidimensi berkepanjangan, niscaya tindakan ektrimisme yang dilakukan oleh orang orang yang telah frustasi akibat krisis kemakmuran berubah menjadi kelompok orang yang mengharapkan penyelesaian masalah dengan jalan pintas, salah satunya menjadi teroris dengan mengharapkan janji surga. Mereka tidak saja telah kehilangan sikap rasional tetapi juga merusak tatanan hidup dan mengancam disentegrasi bangsa! Kemakmuran, kesetabilan ekonomi dan demokrasi yang terdidik merupakan solusi lanjutan merupakan penopang jangka panjang bagi pencegahan tindakan irasional yang berbasis ekstrimisme tidak saja di indonesia tetapi juga di dunia!










Pendapat Teraktual