Oleh: Orang Aneh | September 19, 2008

Tidak Ada Istilah Diskriminasi Berkedok Agama di Negara Sekuler – Liberal!

Pertanyaan Klise dan Retorik : Tapi Nyata !

Bolehkah seorang wanita (terlepas apapun keyakinanya) berjalan sendirian di tempat umum tanpa mengenakan Hijab di Arab Saudi (Contoh) tanpa mendapat ancaman hukuman ataupun resiko pemerkosaan dari warga maupun otoritas setempat ?

Bandingkan

Sebaliknya, apakah ada pelarangan dan resiko ancaman nyata bagi seorang wanita (apapun keyakinanya) untuk berjalan di tempat umum sendirian dengan mengenakan hijab bahkan cadar di negara yang berhukum sekuler semisal Australia atau belanda ?

 Fakta : Negara  Berorientasi Liberal Merupakan Tujuan Favorit Imigran 

Coba di pikir baik baik, Kenapa negara penganut dan yang menerapkan sistem liberalisme (umumnya eropa barat) menjadi tujuan migrasi favorit dari Imigran yang datang dari negara yang tidak demokrasi maupun bersistem theokrasi.

Atau  

Berapa rasio perbandingan  jumlah imigran yang berasal dari negara berazas theokrasi maupun non demokrasi  di negara bersistem sekuler-liberal bila dibandingkan dengan keadaan sebaliknya ?

Penerapan hukum sekuler-Liberal, lebih bebas, Lebih Rasional dan tidak mengekang

Dalam penerapanya hukum sekuler-liberal merupakan tatanan hukum yang mengedepankan asas demokrasi, HAM dan rasionalitas. Sehingga persoalan - issue yang yang dikarenakan oleh friksi yang tercipta di dalam tatanan masyarakat maupun koridor hukum akan diselesaikan melalui cara yang rasional dan fleksibel.

Sehingga hal seperti ini akan meminimalisir sesuatu penerapan kata “mutlak” ataupun “Pokoknya”, karena penerapan sebuah hukum di dalam tatanan kehidupan masyarakat sekuler-liberal tidak mengenal istilah Mutlak yang amat erat dengan proses pendiskriminasian. Mutlak sendiri merupakan penerapan keputusan yang tidak dapat diganggu gugat.  Efek Diskriminasi yang sering terjadi adalah diskriminasi Gender, Ras, Adat hingga diskriminasi Agama.  Meski umumnya kebanyakan tindakan diskriminatif tersebut kerap menggunakan Agama sebagai dalih tindakan diskriminasi tersebut. Karena keputusan yang berdasar dari agama konon identik dengan kata “mutlak”   

Disinilah keutamaan Selkuarisme dibanding sistem pemerintahan penganut theokrasi, dimana tidak ada alasan apapun bagi seseorang atau kelompok yang memaksakan kehendaknya (yang ia yakini) terhadap orang lain, dengan dalih apapun. Karena untuk mematahkan dalih “pemaksaan atas nama Agama” yang notabene memiliki faktor “Mutlak”  Sistem Sekularisme mematahkanya dengan : menempatkan bahwa “Faktor Agama merupakan hak pribadi seseorang yang tidak bisa dicampur baurkan kepada kehidupan bermasyarakat yang heterogen” atas dasar argumen tersebut, secara langsung sistem sekularisme juga melindungi kesucian agama dari pihak yang ingin mengksploitasi agama untuk tujuan tertentu.    

Penerapan pola Sekularisme dan Liberalisme amat mengedepankan asas Rasionalitas, sehingga memicu manusia yang dikaruniai akal dan pikiran untuk terus mengkaji, mengembangkan dan menganalisa sebuah permasalahan yang ada untuk diselesaikan secara rasional. Bukan dengan memberangus akal pikiran dengan dalih sesuatu hal yang memiliki sumber mutlak. Karena pada dasarnya zaman terus berubah, berkembang dan berjalan, sehingga amat tidak rasional jika untuk memecahkan persoalan sebuah negara hanya mengambil kesimpulan dari sebuah hukum yang berusia ratusan-ribuan tahun yang lalu dimana hukum tersebut sudah sangat out dated dan memiliki ruang lingkup yang amat sempit. Yang membuat hukum tersebut tidak bisa diterapkan di dunia saat ini yang mana unsur heterogenitas universal merupakan fakta nyata dalam kehidupan sehari hari. Makanya negara Sekuler-Liberal memiliki keunggulan hampir di semua segi bila dibandingkan negara berazas Theokrasi dan non demokrasi.

 

About these ads

Responses

  1. keren tulisan lo bro!!! seandainya di indonesah ada 200 juta retorika…..

  2. boleh tahu hukum-hukum mana saja yang sudah out dated? mohon diperinci agar kita semua mendapat penjelasan yang nyata dan berbasis fakta. terima kasih.

  3. hmmm…so far…saya sepakat saja sama tulisan ini…
    sebetulnya mau sekuler, mau theokrasi atau mau pake sistem apa saja…semuanya bisa² saja…
    yang jadi masalah adalah pelaksanaannya…apakah konsisten dan disiplin dengan sistem yang dijalankan?
    indonesia memiliki sistem yang paling ideal (menurut saya) sebetulnya, tapi bagaimana pelaksanaannya…lalu lihatlah jadinya…
    sistem theokrasi, pada jaman pemerintahan Nabi SAW…itu bisa menjadi besar dan luar biasa, karena dijalankan dengan konsistensi dan dispin yang luar biasa…maka jadilah islam itu agama yang besar (pernah)…

    (saya sendiri juga masih belum begitu ngerti, apakah Nabi SAW menjalankan sitem Theokrasi atau Demikrasi?)

  4. @ atas
    logikanya sih gt bro, Tuhan Maha Benar ngasih aturan ya pasti benar.. Cuma skarang pye jal, dah ga ada Nabi.. madzab seabrek.. Dari ushul ampe furu’ semua trjadi perbedaan pndapat.. Yang mana yg benar.. Pada yakin bener sih ga masalah, yg masalah kalo ga ada toleransi, nerapinya pake pentungan mulu, ya ujung2nya pentung-pentungan terus.. Klo mw disusun mgkin banyak bnget yg masuk dlm daftar konflik masalah agama, politik dan kekusaan.. Huuh..

  5. Admin – Komentar anda tidak ada hubunganya dengan postingan ini, Harap baca aturan main.

    Sekuler, kapitalisme, liberal dan konco2nya, sekarang sudah hancur dan semoga pergi selamanya paham tersebut, krn jelas semua yg berbau kebebasan akan kebablasan seperti di US dan europe.Ekonomi liberal dan kapitalisme hancur, politik perang irak dan afghanistan kalah, jadi apa yg mau dibanggakan lagi, segeralah masuk ke sistem syariah yg jelas sesuai dengan kebutuhan manusia.
    Jadi Tuhan telah menciptakan manusia sekaligus juga hukumnya untuk kepentingan manusia itu sendiri, apa hukumnya kembali kepada Syariah yg tidak akan hancur selama, sampai hari kiamat.

  6. Kedenganrannya penerapan hukum sekuler – liberal untuk suatu negara sih asyik juga, berarti setiap orang bebas menjalankan agama dan keyakinannya tanpa ada intimidasi dan ancaman…apa betul demikian?

    Sejarah membuktikan pemerintahan yang menganut paham theokrasi memang cenderung memaksakan aturan sesuai agama yang dianut, cenderung menindas dan membatasi ruang gerak orang yang berpaham beda. Orang tidak bisa bebas menjalankan agama dan keyakinannya yang berbeda dengan pemerintah.

    Kalau membaca artikel negara sekuler – liberal seperti yang ditulis diatas, berarti setiap agama dan keyakinan bebas mempromosikan dirinya, dan setiap orang bebas pula memilih agama dan kepercayaan yang akan dianut. Negara diatur oleh undang undang yang rasional dan bermoral. Apa sudah ada negara didunia yang menganut paham seperti itu?

  7. sorry brow gw kurang setuju sama pendapat bahwa sekuler lebih baik,.

    itu semua t’gantung konsistensi dari pemimpin dan keinginan politiknya, gw setuju dgn pendapat dari bro’ “ble’eh”, Bahwa pas jaman Nabi Muhammad SAW bs juga tuh Islam memimpin peradaban dan para penganut agama lain juga dilindungi bahkan yahudi sekalipun. Bagi gw sebagai muslim (walaupun blom ta’at c) justru kelebihan aturan2 dlm ajaran islam karena disitu bukan hanya mengatur tentang hubungan manusia dgn tuhan tetapi juga antar manusia(politik, sosial, hukum, dll) untuk mencapai kemasalahatan umat..

    Nyatanya seperti Amerika yang sangat diagung-agungkan oleh para sekularist,,bagaimana kebijakan politik amerika dibawah kepemimpinan BUSH yang sangat diskriminatif terhadap ras dan agama tertentu seperti bagaimana tawanan di guantanamo yang masuk penjara tanpa melalui proses pengadilan,(hanya karena muka dan namanya ke arab-araban dan dicurigai sebagai teroris) trus amerika yang katanya menjunjung kebebasan termasuk kebebasan pers tetapi terjadi pelarangan pers dalam meliput guantanamo atau bila diijinkan maka jurnalis harus diawasi dengan ketat dan hanya mngunjungi tawanan dan tempat yang sudah di “setting” oleh tentara AS,
    diskriminasi tsb juga berlangsung di berbagai hal coba aja nama anda ke-arab-araban trus ngurus ijin ke imigrasi US pasti dipersulit bgt2, apa itu bkn diskriminasi???

    So..saya sangat gak setuju kalo sekuler dikatakan lebih baik dan menjamin kebebasan dan perlindungan dari diskriminasi karena kebijakan negara/bangsa itu sangat t’gantung dari pemimpinnya dan siapa yang mem”back up”
    seperti perang irak yang dilakukan oleh pemerintah US (george w. bush) yang didukung oleh parlemen yang dikuasai oleh lobby yahudi. padahal kebijakan itu sengat merugikan amerika dalam berbagai bidang dan ditolak oleh sebagian besar warganya(which mean kebijakan itu tidak mencerminkan kehendak rakyat)

    Jadi, begitu pula penerapan sekulerisme di negara-negara barat dan eropa timur, apakah benar itu keinginan dari seluruh rakyat mereka atau itu hanya didukung oleh segelintir elit politik dengan maksud dan kepentingan tertentu???
    dan yang lebih penting lagi apakah anda masih yakin bahwa paham sekuler adalah yang paling baik???
    Mohon dipertimbangkan lagi…

    (sorry commentnya rada telat, abis gw baru liat ada blog ini, maap juga kalo commentnya kepanjangan)

    SALAM…..

  8. Sekuler lebih baik?
    1. Bagaimana soal Greet wilder dan parpolnya diBelanda?
    2. Pelarangan jilbab diperancis?
    3. Diskriminasi muslim di AS utamanya pasca bom WTC
    4. Perlindungan Inggris terhadap Salman Rusdie yg menghina Islam
    5. Pemuatan kartun nabi diskandinavia yg jelas menghina umat islam

    Dan terlalu banyak kejadian diskriminasi pd minoritas dan negara sekuler jika kita rajin mencari beritanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: